Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir 2025 hingga awal 2026 telah meninggalkan dampak yang signifikan bagi masyarakat. Hingga memasuki masa transisi darurat ke pemulihan, ribuan warga masih menghadapi keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan dasar, mulai dari hunian yang layak, akses air bersih, hingga pemulihan ekonomi keluarga. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa sebagian pengungsi masih tinggal di hunian sementara yang belum memadai, dengan berbagai tantangan yang berpotensi memperburuk kerentanan, terutama bagi perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas .
Sebagai respon atas situasi tersebut, Yayasan Perempuan dan Anak Negeri Banda Aceh (YPANBA) bersama mitra, termasuk dukungan dari Komunitas Quaker Australia, telah melakukan berbagai intervensi kemanusiaan. Upaya ini mencakup distribusi bantuan pangan, perlengkapan kebersihan, dukungan shelter, serta penguatan ruang aman dan perlindungan bagi kelompok rentan. Selain itu, YPANBA juga berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pencegahan kekerasan berbasis gender, kesehatan reproduksi, serta pemulihan psikososial bagi penyintas bencana .
Laporan ini disusun sebagai bentuk dokumentasi, refleksi, dan pertanggungjawaban atas kerja-kerja kemanusiaan yang telah dilakukan. Di dalamnya tergambar kondisi nyata di lapangan, capaian intervensi, serta berbagai tantangan yang masih dihadapi. Melalui publikasi ini, YPANBA berharap dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor serta mendorong perhatian yang lebih luas terhadap kebutuhan penyintas, agar proses pemulihan dapat berjalan secara adil, inklusif, dan berkelanjutan.