Ada kalanya kita menjalani hari dengan begitu banyak hal yang harus diselesaikan. Pekerjaan yang belum selesai, pesan yang harus dibalas, dokumen yang perlu diperiksa, dan berbagai tanggung jawab lain yang seolah tidak pernah benar-benar habis. Bahkan ketika satu pekerjaan selesai, biasanya sudah ada pekerjaan lain yang menunggu untuk dikerjakan. Tanpa sadar, kita mulai terbiasa menjalani hari dengan berpindah dari satu tugas ke tugas berikutnya, seakan berhenti sebentar adalah sesuatu yang perlu dipertanggungjawabkan.
Beberapa waktu lalu, aku berkesempatan menghabiskan waktu bersama kelompok muda dari Yayasan Perempuan dan Anak Negeri Banda Aceh (YPANBA). Tidak ada agenda diskusi yang berat, tidak ada materi panjang yang harus dipresentasikan, dan tidak ada target pekerjaan yang perlu kami selesaikan bersama. Kami hanya duduk, mengambil alat mewarnai, lalu mulai memberi warna pada lembaran doodle yang sudah disediakan. Sebuah kegiatan sederhana yang mungkin mengingatkan kita pada masa kecil, ketika memilih warna untuk sebuah gambar bisa menjadi aktivitas yang begitu menyenangkan.
Sebenarnya, sesi ini berangkat dari sebuah gagasan yang cukup sederhana: bagaimana kalau untuk sementara waktu kita memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk tidak berhadapan dengan pekerjaan dan layar laptop? Bagaimana kalau ada sedikit waktu dalam sehari ketika kita tidak perlu memikirkan tenggat, membalas pesan, atau memeriksa sesuatu yang belum selesai? Bukan karena pekerjaan itu tidak penting, tetapi karena diri kita juga membutuhkan perhatian yang sama. Kadang, di tengah kesibukan yang terus berlangsung, kebutuhan untuk beristirahat justru menjadi hal yang paling mudah kita abaikan.
Kami memilih mewarnai doodle karena kegiatan ini tidak membutuhkan keterampilan khusus. Tidak ada keharusan untuk memahami teknik menggambar, menentukan komposisi warna yang tepat, atau menghasilkan sesuatu yang indah menurut penilaian orang lain. Setiap orang bebas memilih warna, mengisi bagian yang disukai, atau bahkan membiarkan beberapa ruang tetap kosong. Dalam kegiatan ini, tidak ada jawaban benar atau salah karena sejak awal kami memang tidak sedang mencari hasil terbaik.
Menariknya, aktivitas yang terlihat sederhana ini justru mengajak kita berhadapan dengan kebiasaan-kebiasaan yang mungkin tidak terlalu kita sadari. Kita terbiasa mengerjakan sesuatu dengan tujuan yang jelas, hasil yang terukur, dan harapan bahwa apa pun yang dilakukan harus memiliki manfaat tertentu. Bahkan ketika sedang beristirahat, kita terkadang masih merasa perlu melakukan sesuatu yang dianggap berguna. Akibatnya, waktu luang pun bisa berubah menjadi ruang baru untuk menuntut diri sendiri agar tetap produktif.
Barangkali itulah mengapa memberi warna pada sebuah doodle bisa menjadi pengalaman yang berbeda. Kita tidak sedang menyusun laporan, mengejar capaian organisasi, atau memikirkan strategi untuk menyelesaikan persoalan yang lebih besar. Untuk beberapa saat, perhatian kita hanya tertuju pada warna yang ingin dipilih dan bagian gambar yang ingin diisi. Kita boleh menyelesaikannya, boleh juga tidak. Tidak ada konsekuensi apa pun ketika warna yang dipilih ternyata tidak sesuai dengan bayangan semula.
Aku juga merasa bahwa kegiatan seperti ini penting untuk dihadirkan dalam ruang-ruang organisasi, terutama bagi orang muda yang sehari-hari terlibat dalam berbagai pekerjaan dan tanggung jawab. Sering kali, semangat untuk berkontribusi membuat kita merasa perlu terus bergerak, terus hadir, dan terus melakukan sesuatu. Ada banyak hal yang ingin diperjuangkan, banyak persoalan yang membutuhkan perhatian, dan tidak sedikit pekerjaan yang terasa mendesak. Namun, di tengah semua itu, kita juga perlu mengingat bahwa orang-orang yang menjalankan pekerjaan tersebut adalah manusia yang memiliki batas tenaga, perhatian, dan emosi.
Dalam konteks ini, beristirahat bukan berarti kehilangan komitmen terhadap pekerjaan atau tanggung jawab. Mengambil jeda juga bukan tanda bahwa seseorang kurang peduli terhadap hal-hal yang sedang diperjuangkannya. Justru dengan mengenali kebutuhan diri sendiri, kita memiliki kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan pekerjaan. Kita belajar bahwa keterlibatan dalam organisasi tidak harus selalu ditandai dengan kesibukan yang tanpa henti.
Tentu saja, satu sesi mewarnai tidak serta-merta menghilangkan rasa lelah atau menyelesaikan berbagai tekanan yang mungkin sedang dihadapi seseorang. Aktivitas ini juga bukan pengganti dukungan psikologis yang mungkin dibutuhkan ketika seseorang mengalami persoalan yang lebih kompleks. Namun, kegiatan sederhana seperti mewarnai dapat menjadi salah satu cara untuk mengalihkan perhatian sejenak dari tuntutan sehari-hari, menikmati aktivitas yang tidak menuntut banyak keputusan, dan memberi kesempatan kepada pikiran untuk beristirahat. Tidak semua bentuk perawatan diri harus dilakukan melalui kegiatan yang besar, mahal, atau membutuhkan persiapan panjang.
Ada sesuatu yang menyenangkan dari melihat selembar gambar perlahan dipenuhi warna. Setiap orang memiliki pilihan yang berbeda, bahkan ketika gambar yang diwarnai mungkin serupa. Ada yang menyukai warna-warna cerah, ada yang memilih kombinasi lembut, dan ada pula yang menggunakan warna tanpa terlalu memikirkan kesesuaiannya. Perbedaan itu tidak perlu diperdebatkan atau dibandingkan. Masing-masing orang punya caranya sendiri untuk menikmati proses yang sedang dijalani.
Bagi saya, sesi bersama kelompok muda YPANBA ini menjadi pengingat bahwa ruang aman dan nyaman dalam organisasi tidak selalu harus dibangun melalui diskusi serius atau kegiatan yang dirancang secara formal. Terkadang, ruang tersebut dapat hadir melalui aktivitas sederhana yang memberi kebebasan kepada setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa tuntutan untuk menunjukkan kemampuan atau menghasilkan sesuatu. Ruang tempat kita bisa duduk bersama, berbagi cerita apabila ingin, atau menikmati kesunyian tanpa harus merasa canggung. Ruang yang tidak selalu meminta kita memberikan kontribusi, tetapi juga mengizinkan kita untuk menerima perhatian dan kesempatan beristirahat.
Mungkin selama ini kita terlalu sering mengukur sebuah hari dari seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Kita merasa puas ketika daftar tugas semakin pendek, tetapi mudah merasa bersalah ketika ada waktu yang berlalu tanpa menghasilkan apa-apa. Padahal, kehidupan tidak hanya terdiri atas pekerjaan yang harus dituntaskan atau target yang harus dicapai. Ada bagian lain dari kehidupan yang juga perlu kita rawat, termasuk kesempatan untuk menikmati sesuatu tanpa harus menjelaskan manfaatnya.
Pada akhirnya, sesi mewarnai doodle bersama kelompok muda YPANBA bukan tentang siapa yang menghasilkan gambar paling bagus atau siapa yang paling cepat menyelesaikan seluruh bagiannya. Kegiatan ini adalah tentang memberikan izin kepada diri sendiri untuk berhenti sebentar dari rutinitas yang melelahkan. Tentang menyadari bahwa kita tidak harus selalu tersedia untuk pekerjaan, tidak harus selalu menatap layar, dan tidak harus selalu melakukan sesuatu yang dianggap produktif.
Sebab, mungkin sesekali yang kita butuhkan bukanlah cara baru untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, melainkan keberanian untuk mengatakan bahwa pekerjaan bisa menunggu sebentar.
Dan pada hari itu, melalui selembar doodle dan beberapa pilihan warna, kami mencoba memberikan ruang bagi diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang sederhana: menikmati waktu tanpa harus menghasilkan apa-apa (RR).
Tentang Penulis:
Radif Rahadian adalah pekerja komunitas, peneliti, konselor, dan fasilitator asal Aceh yang berkecimpung dalam isu kesehatan mental, keamanan holistik, keberagaman, dan perawatan kolektif. Ia sangat tertarik mendalami persoalan struktural yang memengaruhi kehidupan sehari-hari, terutama yang berkaitan dengan rasa aman, kesejahteraan, dan kemampuan seseorang untuk merawat diri.