Ketika berbicara tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, nama-nama panglima, tentara, dan pemimpin perang sering kali menjadi bagian terbesar dari cerita. Namun, di balik perjuangan itu terdapat banyak perempuan yang ikut bergerak, bekerja, dan mengambil risiko—meski nama mereka tidak selalu tercatat dalam sejarah secara utuh.
Salah satunya adalah Letnan Dua Ummi Salamah, perempuan Aceh yang dikenal sebagai istri Kolonel Husein Yusuf, Panglima Divisi X Komandemen Sumatera Utara, Langkat dan Tanah Karo.
Namun, menyebut Ummi Salamah hanya sebagai istri seorang panglima tentu tidak cukup. Ia sendiri adalah bagian dari perjuangan mempertahankan Republik Indonesia.
Salah satu jejak perjuangannya terkait erat dengan Radio Rimba Raya, radio perjuangan dari pedalaman Aceh yang memainkan peran penting dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia di tengah Agresi Militer Belanda II.
Ketika Republik Indonesia sedang terancam
Pada Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II dan berhasil menduduki Yogyakarta. Belanda kemudian berusaha membangun propaganda bahwa Republik Indonesia telah berakhir. Dalam situasi tersebut, perjuangan tidak hanya berlangsung melalui pertempuran bersenjata. Informasi juga menjadi senjata.
Dari Aceh, Radio Rimba Raya menjadi salah satu media yang menyampaikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih ada. Kajian sejarah mencatat bahwa pemancar Radio Rimba Raya dipindahkan secara rahasia ke pedalaman Aceh dan kembali beroperasi di Rimba Raya pada 20 Desember 1948.
Radio tersebut tidak sekadar menyiarkan berita. Siarannya juga digunakan untuk hubungan dengan jaringan perjuangan, menyampaikan informasi kepada rakyat, melakukan siaran luar negeri, dan memberikan instruksi bagi para pejuang.
Dari tengah rimba Aceh, suara Republik terus terdengar. Dan dalam proses menghidupkan suara itu, Ummi Salamah mengambil peran yang tidak kecil.
Sebuah radio tidak akan mengudara tanpa listrik
Memindahkan sebuah pemancar radio ke pedalaman bukan perkara sederhana.
Setelah pemancar dibawa menuju kawasan Rimba Raya, muncul persoalan teknis: tidak tersedia perangkat penghubung listrik dan kabel yang cukup. Tanpa listrik, pemancar tidak dapat bekerja.
Di sinilah Ummi Salamah bergerak.
Menurut kajian sejarah Radio Rimba Raya, pencarian perangkat listrik dilakukan oleh Ummi Salamah. Ia mencarinya dari Bireuen, kemudian menuju Lampahan. Namun perangkat yang dibutuhkan tidak ditemukan karena keterbatasan pasokan listrik pada masa itu.
Pencarian kemudian berlanjut hingga Kuala Simpang. Di sana, perangkat listrik akhirnya berhasil diperoleh dan dibawa ke Rimba Raya. Persoalan berikutnya adalah kabel yang belum mencukupi. Pencarian kembali dilakukan hingga kebutuhan kabel tersebut terpenuhi.
Perjalanan itu mungkin terdengar sederhana jika dibaca hari ini. Mencari mesin listrik. Mencari kabel. Membawanya ke tempat lain.
Tetapi pada masa perang, dengan keterbatasan sarana transportasi, listrik, komunikasi, serta ancaman dari pihak musuh, perjalanan tersebut tentu bukan pekerjaan ringan.
Bagi Ummi Salamah, sebuah mesin listrik dan beberapa meter kabel adalah bagian dari perjuangan mempertahankan Republik.
Dari pedalaman Aceh, suara Indonesia menembus dunia
Setelah perangkat radio berhasil dioperasikan, Radio Rimba Raya mulai menjalankan perannya sebagai radio perjuangan.
Siarannya berlangsung mulai sore dan menggunakan berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia serta sejumlah bahasa asing seperti Inggris, Arab, Cina, dan bahasa lainnya. Radio tersebut digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai perjuangan Indonesia serta membangun komunikasi dengan jaringan di berbagai wilayah.
Radio Rimba Raya kemudian menjadi salah satu sarana penting untuk membantah propaganda Belanda.
Pesannya tegas: Republik Indonesia belum berakhir.
Dengan demikian, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya terjadi di medan pertempuran. Ia juga terjadi di balik sebuah pemancar. Di balik kabel. Di balik mesin listrik. Dan di balik suara yang mengudara.
Ummi Salamah juga berada di depan mikrofon
Peran Ummi Salamah tidak berhenti pada upaya membantu menyediakan perangkat yang dibutuhkan radio. Sejumlah sumber sejarah menyebut bahwa ia sesekali turut menjadi penyiar Radio Rimba Raya. Ia disebut mengudara pada sore hari dan menyampaikan pesan-pesan yang memberikan semangat kepada para pejuang.
Bayangkan suasana pada masa itu. Di tengah perang. Di tengah ketidakpastian. Di tengah ancaman bahwa Republik Indonesia akan dianggap telah berakhir.
Seorang perempuan duduk di depan mikrofon. Kemudian suaranya keluar dari sebuah radio di tengah rimba Aceh. Bukan sekadar suara seorang penyiar. Tetapi suara yang membawa pesan bahwa perjuangan belum selesai.
Perempuan dalam sejarah kemerdekaan
Kisah Ummi Salamah mengingatkan kita bahwa perjuangan perempuan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama.
Ada perempuan yang mengangkat senjata. Ada yang merawat korban. Ada yang mengantar pesan. Ada yang menyediakan kebutuhan logistik. Ada yang bekerja di balik layar. Dan ada yang berdiri di depan mikrofon untuk menyampaikan harapan.
Ummi Salamah adalah salah satunya.
Kisahnya juga memperlihatkan bahwa perjuangan tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar sesuatu yang kita lakukan.
Dalam kondisi tertentu, sebuah mesin listrik bisa menjadi bagian dari perjuangan. Sebuah kabel bisa menjadi bagian dari perjuangan. Sebuah suara bisa menjadi bagian dari perjuangan. Dan ketika semua itu dilakukan untuk menjaga keberadaan Republik, hal-hal kecil tersebut memiliki arti yang sangat besar.
Namanya masih hidup di Bireuen
Ummi Salamah dan Kolonel Husein Yusuf kemudian dimakamkan berdampingan di Geulumpang Payong, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Keduanya dikenang sebagai tokoh yang memiliki peran dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan sejarah Radio Rimba Raya.
Jejak sejarah mereka juga masih dapat ditemukan dalam berbagai dokumentasi dan koleksi Museum Aceh.
Salah satu dokumentasi yang ditampilkan di Museum Aceh menampilkan foto Ummi Salamah dengan keterangan mengenai pengalamannya mendampingi suaminya selama perjuangan kemerdekaan. Foto tersebut berasal dari Koleksi Museum Aceh, sebagaimana tercantum pada keterangan foto yang menjadi bagian dari dokumentasi YPANBA.
Kemerdekaan Punya Banyak Wajah
Setiap tanggal 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan dengan upacara, bendera, lagu kebangsaan, dan berbagai perayaan. Namun, kemerdekaan juga seharusnya menjadi kesempatan untuk mengingat mereka yang membuat kemerdekaan itu mungkin terjadi.
Ummi Salamah mengajarkan kepada kita bahwa keberanian tidak selalu terlihat seperti pertempuran.
Kadang keberanian adalah berangkat mencari sesuatu yang dibutuhkan, meski kita tidak tahu apakah akan berhasil. Kadang perjuangan adalah memastikan sebuah radio tetap bisa menyala. Dan kadang, perjuangan adalah berani menggunakan suara ketika banyak orang berusaha membuat suara itu hilang.
Lebih dari tujuh dekade kemudian, suara Radio Rimba Raya mungkin hanya tersisa dalam arsip, museum, buku, dan ingatan sejarah. Tetapi pesan perjuangannya masih relevan.
Indonesia pernah dipertahankan oleh begitu banyak tangan.
Termasuk tangan perempuan. Termasuk suara perempuan. Dan termasuk seorang perempuan Aceh bernama Ummi Salamah.
Pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 ini, YPANBA mengajak kita untuk tidak hanya mengenang para tokoh yang namanya besar dalam sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali cerita perempuan-perempuan yang ikut membangun dan mempertahankan Indonesia.
Karena kemerdekaan punya banyak wajah. Dan salah satunya adalah wajah perempuan.
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Merdeka!
Sumber dan referensi
- Defending Indonesian Sovereignty through Mass Media: Radio Rimba Raya in the Revolutionary War, Indonesian Historical Studies, Universitas Diponegoro.
- Perkembangan Media Komunikasi di Daerah: Radio Rimba Raya di Aceh, repositori Kemendikbud.
- Habibi Muttaqin, Peran Radio Rimba Raya dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia, Repository UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
- DetikNews, “Pahlawan Sepi dari Negeri Kopi”, 28 Februari 2013.
- Dokumentasi sejarah Museum Aceh dan arsip koleksi terkait Radio Rimba Raya.
- Dokumentasi sejarah lokal Bireuen mengenai Kolonel Husein Yusuf dan Ummi Salamah.