Menguatkan pangan lokal, solidaritas ekonomi perempuan, dan pemulihan penghidupan pascabanjir melalui kelompok tani perempuan di Bireuen dan Pidie Jaya.
Ketika sawah belum dapat digarap dan kebutuhan pangan keluarga harus tetap dipenuhi, menanam di sekitar rumah menjadi salah satu pilihan untuk mempertahankan penghidupan. Bagi Nurasiah, anggota kelompok tani perempuan di Desa Kubu, Kabupaten Bireuen, bertani bukanlah hal baru. Namun, ketika kondisi belum memungkinkan untuk kembali menggarap sawah, ia perlu mencari cara lain agar keluarganya tetap memiliki akses terhadap beras.
Pengalaman Nurasiah menggambarkan tantangan yang dihadapi keluarga dalam memulihkan penghidupan setelah bencana. Pemulihan tidak hanya berkaitan dengan perbaikan rumah dan infrastruktur, tetapi juga kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan, mempertahankan sumber pendapatan, dan melanjutkan kehidupan sehari-hari.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Yayasan Perempuan dan Anak Negeri Banda Aceh (YPANBA) mendampingi pembentukan kelompok tani perempuan di Desa Kubu, Kabupaten Bireuen, dan Desa Blang Dalam, Kabupaten Pidie Jaya. Inisiatif ini mendorong pemanfaatan lahan dan pekarangan untuk produksi pangan lokal, sekaligus memperkuat peran perempuan dalam membangun ketangguhan keluarga dan komunitas pascabanjir 2025.
Bagi YPANBA, kebun perempuan bukan sekadar ruang untuk menanam sayuran dan buah-buahan. Kebun juga menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian pangan, mengembangkan peluang ekonomi, serta menumbuhkan solidaritas yang mendukung pemulihan penghidupan secara berkelanjutan.
Dari Pekarangan Rumah, Perempuan Kubu Menjaga Pangan Keluarga
Di Desa Kubu, Kabupaten Bireuen, YPANBA mendukung pembentukan kelompok tani perempuan melalui penyediaan benih dan bibit serta dukungan pengembangan kegiatan pertanian rumah tangga.
Sebanyak 15 perempuan yang tersebar di empat dusun mulai mengembangkan pekarangan rumah menjadi kebun produktif. Berbagai jenis sayuran dan buah-buahan ditanam sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan masing-masing keluarga.
Pekarangan yang berada dekat dengan rumah memberikan kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan kegiatan pertanian secara bertahap. Mereka dapat menyiapkan lahan, menanam, merawat tanaman, dan memanfaatkan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi Nurasiah, kegiatan bertani menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan ketersediaan pangan. Ketika sawahnya belum dapat digarap, ia mencoba menanam padi di sekitar rumah dengan cara tajoek, istilah lokal yang ia gunakan untuk menyebut sistem huma.
Dukungan modal dari YPANBA membantunya membeli bibit dan pupuk untuk melanjutkan kegiatan tersebut.
“Saya bersyukur, dengan bantuan modal dari YPANBA, saya bisa beli bibit dan pupuk untuk tanaman padi, sawah saya belum bisa digarap, saya coba tanam padi di sekeliling rumah dengan cara ‘tajoek’ (sistem huma), karena kalau tidak menanam sendiri, kami tidak mampu memenuhi kebutuhan beras untuk makan keluarga, suami dan saya dari dulu kami bertani.”
Nurasiah, anggota kelompok tani perempuan, Desa Kubu
Pengalaman Nurasiah memperlihatkan bahwa dukungan pemulihan penghidupan perlu mempertimbangkan kebutuhan nyata keluarga serta pengetahuan yang telah dimiliki masyarakat. Ketika sawah belum dapat dimanfaatkan, menanam di sekitar rumah menjadi salah satu alternatif untuk melanjutkan produksi pangan.
Bagi keluarga yang telah lama menggantungkan penghidupan pada pertanian, kemampuan untuk terus menanam bukan hanya berkaitan dengan pendapatan. Kegiatan tersebut juga berhubungan langsung dengan ketersediaan pangan di rumah.
Melalui pendampingan kelompok tani perempuan, YPANBA berupaya mendukung perempuan agar dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia, melanjutkan keterampilan bertani, dan mengembangkan alternatif penghidupan sesuai kondisi masing-masing keluarga.
Ketika Kebun Mulai Menghasilkan
Manfaat pengembangan kebun di Kubu juga mulai terlihat dari pengalaman anggota kelompok lainnya. Yusriati, salah satu anggota kelompok tani perempuan, telah memanen timun dan kacang panjang dari kebunnya.
Hasil panen dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Sebagian lainnya dipasarkan kepada masyarakat di lingkungan sekitar dan kerabat dekat.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa kebun rumah dapat memberikan manfaat ganda. Selain menyediakan bahan pangan untuk konsumsi keluarga, hasil panen juga dapat membuka peluang memperoleh tambahan pendapatan.
Meskipun pemasaran masih dilakukan dalam lingkup lingkungan terdekat, praktik tersebut menjadi langkah awal dalam mengembangkan kegiatan pertanian berbasis rumah tangga. Hasil kebun tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri, tetapi juga mulai memiliki nilai ekonomi bagi keluarga.
Cerita Nurasiah dan Yusriati memperlihatkan dua bentuk upaya yang saling melengkapi: menjaga ketersediaan pangan ketika sawah belum dapat digarap dan memanfaatkan hasil panen untuk konsumsi maupun pemasaran lokal.
Keduanya menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan dapat dimulai dari langkah yang dekat dengan kehidupan keluarga, dengan tetap memperhatikan kondisi lahan, kebutuhan rumah tangga, dan kemampuan produksi.
Dokumentasi YPANBA. Hasil Panen Timun dan Kebun Kacang Panjang Bu Yusriati di Desa Kubu.
Blang Dalam: Mengubah Lahan Desa Menjadi Kebun Produktif Bersama
Di Desa Blang Dalam, Kabupaten Pidie Jaya, pendampingan YPANBA dilakukan melalui pengembangan lahan desa di pekarangan Gedung Daur Ulang menjadi kebun pangan bersama.
Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan untuk menanam sayuran dan buah-buahan mulai dikembangkan sebagai ruang budidaya. Anggota kelompok tani perempuan menanam berbagai jenis tanaman dan merawat lahan tersebut secara bersama-sama.
Selain memanfaatkan lahan desa, para anggota juga mengembangkan kebun di pekarangan rumah masing-masing. Dengan demikian, kegiatan pertanian berlangsung melalui dua pendekatan: pengelolaan lahan bersama dan pemanfaatan lahan rumah tangga.
Lahan bersama menyediakan ruang bagi perempuan untuk bekerja kolektif, bertukar pengetahuan, dan membangun pengalaman dalam mengelola kebun. Sementara itu, pekarangan rumah memberikan kesempatan untuk menanam sesuai dengan kebutuhan keluarga dan kondisi lahan yang tersedia.
Dalam proses pendampingan, pengembangan kelompok tani perempuan tidak hanya berkaitan dengan penyediaan bibit atau pemanfaatan lahan. Keberlanjutan kegiatan juga membutuhkan keterlibatan anggota, rasa memiliki terhadap kebun, dan kesepakatan untuk merawatnya bersama.
Pemanfaatan lahan desa menjadi kebun pangan menunjukkan bahwa sumber daya lokal dapat memiliki fungsi baru ketika dikelola untuk memenuhi kebutuhan komunitas. Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan untuk produksi pangan mulai menjadi ruang bagi perempuan untuk mengembangkan kegiatan pertanian dan memperkuat kerja sama.
Dokumentasi YPANBA. Hasil Kebun Kelompok Tani Perempuan Desa Blang Dalam – Blada ASRI.
Pengalaman Blang Dalam juga memperlihatkan pentingnya dukungan komunitas dalam pemulihan penghidupan pascabencana. Ketika lahan, pengetahuan, dan tenaga warga dapat dipertemukan melalui kerja kolektif, terbuka peluang untuk membangun inisiatif yang bermanfaat bagi keluarga sekaligus komunitas.
Feminist Economy Solidarity: Pangan sebagai Ruang Solidaritas Perempuan
Pendampingan kelompok tani perempuan di Kubu dan Blang Dalam juga terhubung dengan pendekatan Feminist Economy Solidarity (FES), yaitu solidaritas ekonomi feminis yang menempatkan perempuan, kerja mereka, pengetahuan, kebutuhan, dan kepemimpinan sebagai bagian penting dalam membangun ekonomi yang lebih adil.
Dalam pendekatan ini, pangan tidak hanya dipandang sebagai komoditas yang diproduksi untuk dijual. Pangan juga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar, pengakuan terhadap kerja perempuan, pengelolaan sumber daya bersama, dan kemampuan komunitas untuk saling mendukung.
Melalui kelompok tani, perempuan memiliki ruang untuk berbagi pengalaman, mengembangkan keterampilan, dan membangun inisiatif yang berangkat dari kebutuhan mereka sendiri. Kebun menjadi tempat untuk mempraktikkan kerja kolektif sekaligus memperkuat kemampuan perempuan dalam mengelola sumber daya yang tersedia.
FES juga mendorong agar manfaat ekonomi tidak semata-mata diukur dari pendapatan yang dihasilkan. Akses perempuan terhadap lahan dan sarana produksi, keterlibatan dalam pengambilan keputusan, pengakuan atas kerja mereka, serta kesempatan menentukan pemanfaatan hasil produksi merupakan bagian penting dari ekonomi yang berkeadilan.
Dalam konteks ini, perempuan tidak ditempatkan hanya sebagai penerima bantuan atau pelaksana kegiatan pertanian. Mereka merupakan pelaku yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kapasitas untuk menentukan strategi penghidupan bagi keluarga dan komunitasnya.
Pengembangan kelompok tani perempuan menjadi salah satu ruang bagi YPANBA untuk menghubungkan ketahanan pangan dengan solidaritas ekonomi. Ketika perempuan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kebun, memanfaatkan hasilnya, dan bekerja bersama, mereka juga memperoleh ruang untuk memperkuat peran dalam pengelolaan pangan dan penghidupan keluarga.
Dari Benih hingga Hasil Panen: Merawat Keberlanjutan
Keberlanjutan kebun tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan menanam, tetapi juga oleh kemampuan untuk merawat tanaman, memanfaatkan hasil panen, dan melanjutkan produksi pada musim berikutnya.
Dalam pengembangan kebun pangan, hasil panen dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Sebagian hasil juga dapat dipasarkan di lingkungan sekitar untuk membuka peluang tambahan pendapatan.
Selain itu, praktik menyisihkan sebagian hasil panen untuk dijadikan benih berikutnya mulai dikembangkan dengan memanfaatkan kebiasaan yang telah dikenal masyarakat. Praktik ini dapat mendukung kesinambungan produksi dan membantu kelompok mengelola sumber daya secara lebih mandiri, sesuai dengan jenis tanaman yang dibudidayakan.
YPANBA juga memperkenalkan praktik pengomposan dan penggunaan pembasmi hama alami sebagai bagian dari upaya mengembangkan pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Pengomposan membantu mengembalikan bahan organik ke tanah dan mendukung pemeliharaan kesuburan tanah. Sementara itu, pembasmi hama berbahan alami dapat menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan hama, dengan tetap memperhatikan keamanan dan efektivitas penggunaannya.
Dokumentasi YPANBA. Proses pembuatan kompos bersama Kelompok Tani Perempuan ‘Gigeh Meutani’ Desa Kubu, Bireuen.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dari alam kembali ke alam: memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara bijak, mengurangi limbah organik, dan merawat lingkungan sebagai bagian dari keberlanjutan produksi pangan.
Keragaman tanaman pangan juga penting bagi pemenuhan kebutuhan gizi keluarga. Ketersediaan sayuran dan buah-buahan dapat membantu mendukung pola konsumsi yang lebih beragam, termasuk bagi anak-anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan.
Namun, pemenuhan gizi dan pencegahan stunting tetap membutuhkan dukungan yang lebih luas, termasuk akses terhadap pangan bergizi, layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, dan pengasuhan yang baik. Karena itu, pengembangan kebun pangan merupakan salah satu bagian dari upaya memperkuat kesejahteraan keluarga, bukan satu-satunya solusi.
Kebun Pangan sebagai Bagian dari Kesiapsiagaan Bencana
Bencana dapat merusak tanaman, mengganggu distribusi pangan, menghambat akses terhadap pasar, dan mengurangi pendapatan rumah tangga. Ketika kondisi tersebut terjadi, keluarga membutuhkan berbagai sumber daya untuk mempertahankan akses pangan dan memulihkan penghidupan.
Pengembangan kebun pangan di Kubu dan Blang Dalam merupakan salah satu upaya untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko tersebut.
Pemanfaatan pekarangan dan lahan bersama dapat membantu menyediakan sebagian kebutuhan pangan keluarga. Penyimpanan benih, pengembangan praktik pertanian ramah lingkungan, serta pemasaran hasil panen dapat mendukung kesinambungan produksi dan membuka peluang penghidupan.
Dokumentasi YPANBA. Kelompok Tani Perempuan ‘Gigeh Meutabi’ Desa Kubu, Bireuen bertanam di lahan rumah.
Kebun rumah tentu tidak dapat sepenuhnya menggantikan kebutuhan pangan dari pasar atau sumber lainnya. Namun, ketika dikelola secara berkelanjutan dan didukung oleh keragaman tanaman serta akses terhadap sumber daya produksi, kebun dapat menjadi salah satu penopang bagi keluarga ketika akses pangan terganggu.
Kesiapsiagaan juga membutuhkan solidaritas. Kemampuan komunitas untuk berbagi pengetahuan, memanfaatkan sumber daya bersama, dan saling mendukung dapat menjadi modal penting ketika keluarga menghadapi kesulitan.
Dalam kerangka Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), upaya membangun ketangguhan pangan perlu memastikan bahwa perempuan dan kelompok yang menghadapi hambatan sosial, ekonomi, atau terkait disabilitas memiliki kesempatan yang setara untuk mengakses sumber daya, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, dan memperoleh manfaat dari program.
Pendekatan ini menempatkan ketangguhan bukan semata-mata sebagai kemampuan untuk bertahan ketika bencana terjadi, tetapi juga sebagai kemampuan membangun penghidupan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Menumbuhkan Ketangguhan dari Sumber Daya Lokal
Pengalaman pendampingan di Kubu, Bireuen, dan Blang Dalam, Pidie Jaya, memperlihatkan bahwa penguatan ketahanan pangan dapat dimulai dari langkah-langkah yang dekat dengan kehidupan masyarakat: memanfaatkan pekarangan, mengembangkan lahan desa, menanam beragam jenis pangan, menyisihkan benih, dan membangun kerja sama antarsesama perempuan.
Perjalanan ini masih membutuhkan proses, pendampingan, dan dukungan yang berkelanjutan. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga oleh kemampuan kelompok merawat kebun, menjaga kesinambungan produksi, memanfaatkan hasil panen, dan mengembangkan peluang ekonomi yang bermanfaat bagi anggotanya.
Bagi YPANBA, penguatan kelompok tani perempuan merupakan bagian dari upaya membangun ketangguhan komunitas pascabencana melalui kepemimpinan perempuan, pemanfaatan sumber daya lokal, dan solidaritas ekonomi yang berperspektif GEDSI.
Cerita Nurasiah yang berupaya menjaga ketersediaan beras bagi keluarganya dan Yusriati yang mulai memanfaatkan hasil panen timun serta kacang panjang menunjukkan bahwa kebun memiliki arti yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kebun dapat menjadi ruang untuk memenuhi kebutuhan pangan, melanjutkan keterampilan bertani, dan membuka peluang ekonomi.
Pada akhirnya, kebun perempuan bukan sekadar ruang produksi pangan. Ia juga menjadi ruang untuk membangun pengetahuan, memperkuat kemandirian, dan menumbuhkan solidaritas bagi pemulihan kehidupan keluarga dan komunitas.
Ketika perempuan memiliki akses terhadap sumber daya, ruang untuk mengambil keputusan, dan kesempatan untuk membangun penghidupannya, ketangguhan pangan dapat tumbuh dari rumah, berkembang melalui solidaritas, dan menguatkan komunitas dalam menghadapi krisis. [ds]