CYCLONE SENYAR RESPONSE – Stories of Change from Affected Communities in Aceh

RESPONS SIKLON SENYAR

Cerita Perubahan dari Komunitas Terdampak di Aceh

“Pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali apa yang rusak, tetapi tentang membantu masyarakat mendapatkan kembali akses, penghidupan, kemandirian dan harapan.”

Dari Dukungan Menjadi Perubahan

Pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika bantuan darurat selesai dibagikan. Bagi masyarakat terdampak di Gayo Setie (Bener Meriah), Kenawat (Aceh Tengah), Kubu dan Bale Panah (Bireuen), serta Blang Dalam (Pidie Jaya), pemulihan berarti mendapatkan kembali akses terhadap air bersih, pangan, penghidupan dan layanan dasar, sekaligus membangun kembali kemampuan untuk bertahan dan pulih.

Dengan dukungan komunitas Quaker Australia, YPANBA melaksanakan intervensi pemulihan selama April–September 2026 melalui empat sektor, yaitu: ketahanan pangan, perlindungan dan dukungan psikososial, WASH dan pemulihan lingkungan, serta pemulihan mata pencaharian.

Laporan ini tidak hanya ingin menunjukkan berapa banyak bantuan yang diberikan, tetapi juga apa yang berubah dalam kehidupan masyarakat setelah dukungan tersebut diberikan.

“Karena di balik setiap angka, ada kehidupan. Ada perempuan yang kembali berani bergerak sendiri. Ada keluarga yang lebih mudah mendapatkan air. Ada perempuan yang mulai membangun kembali penghidupannya bersama perempuan lainnya.”

Dampak Dalam Sekilas

Melalui kegiatan program ini ada 2.344 orang warga terdampak menerima bantuan, diantaranya 141 rumah tangga telah menerima dukungan pangan dalam bentuk sembako, 1.298 orang dalam rumah tangga memperoleh akses air bersih, dan 44 keluarga mendapatkan dukungan pemulihan ekonomi dan mata pencaharian.

Capaian-capaian itu diperoleh melalui empat sektor intervensi:

  1. Ketahanan Pangan — bantuan pangan dan dukungan pengelolaan lahan/kebun pangan.
  2. Perlindungan & Dukungan Psikososial — nutrisi, kebersihan, GBV/MHPSS, kesehatan reproduksi dan perlindungan anak.
  3. WASH & Pemulihan Lingkungan — akses air bersih, pemulihan jalan/jembatan alternatif dan lingkungan.
  4. Pemulihan Mata Pencaharian — FES, dukungan pertanian, dana bergulir dan kelompok ekonomi perempuan.

Ketika Bencana Telah Berlalu, Pemulihan Belum Selesai

Aceh telah memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Namun, kebutuhan masyarakat tidak semuanya dapat dijawab melalui pembangunan infrastruktur utama. Di sejumlah desa, masyarakat masih menghadapi persoalan penghidupan, tempat tinggal, akses layanan dasar dan pemulihan nonfisik.

Di Gayo Setie, kerusakan jembatan sempat membuat desa terisolasi. Warga kesulitan membawa hasil pertanian keluar desa dan mengakses layanan kesehatan. Di Kenawat, keterbatasan akses air bersih menambah beban kehidupan sehari-hari. Sementara di beberapa wilayah lain, kerusakan lahan perkebunan dan pertanian membuat keluarga harus mencari cara baru untuk mempertahankan sumber pangan dan penghidupan.

Pemulihan Perlu Melihat Hal-hal Lebih Jauh

Pemulihan bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali mengakses layanan dasar, memenuhi kebutuhan pangan, memulihkan penghidupan, merasa aman dan terlindungi, serta membangun ketahanan untuk menghadapi risiko di masa depan.

Pemulihan perlu melihat rantai perubahan:

b690

CERITA PERUBAHAN

Sekarang Saya Sudah Berani Membawa Motor Sendiri
Nurcahyawati — Ketua Kelompok Buge Maju, Gayo Setie

Sebelum jalan dan jembatan diperbaiki, mobilitas warga sangat terbatas. Kondisi jalan yang rusak membuat warga bergantung pada orang lain ketika harus keluar desa. Perbaikan jalan dan jembatan alternatif dilakukan dengan dukungan program dan gotong royong masyarakat.

      “Saya sudah berani membawa motor sendiri.”
      Nurcahyawati, Ketua Kelompok Buge Maju, Gayo Setie

Sebelumnya, ia selalu harus ditemani suaminya untuk melewati jalan dan jembatan yang rusak. Setelah akses diperbaiki, ia dapat bepergian keluar desa secara lebih mandiri.

Sebelum program, kerusakan akses membatasi mobilitas masyarakat dan membuat sebagian warga bergantung pada orang lain untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Setelah intervensi, akses yang membaik membuat mobilitas masyarakat lebih mudah dan aman, sehingga mereka dapat beraktivitas dengan lebih leluasa dan lebih mandiri.

Pemulihan akses juga memudahkan masyarakat menuju lahan pertanian, pasar, sekolah dan layanan kesehatan.

Beban Pekerjaan Rumah Saya Jadi Berkurang
Sari Ratna Dewi — Warga Desa Kenawat

Akses air bersih merupakan kebutuhan dasar, tetapi bagi keluarga yang tinggal jauh dari sumber air, mendapatkan air juga berarti tambahan waktu dan tenaga. Melalui intervensi WASH, YPANBA mendukung pembangunan jaringan pipa dan tandon air di Kenawat.

      “Beban pekerjaan rumah saya jadi berkurang.”
       Sari Ratna Dewi, Warga Desa Kenawat

Ia tidak lagi harus pergi jauh untuk mendapatkan air dan dapat membawa beberapa galon menggunakan sepeda motor.

Sebelum program, sumber air jauh, membutuhkan waktu dan tenaga. Setelah program, air lebih dekat dan pekerjaan rumah tangga lebih ringan. Laporan mencatat 1.298 orang memperoleh akses rumah tangga terhadap air bersih melalui intervensi program.

Bangkit Bersama, Bukan Sendiri
Ketika pemulihan ekonomi dibangun melalui solidaritas perempuan.

Melalui pendekatan Feminist Economic Solidarity (FES), perempuan didukung untuk membangun kembali penghidupan melalui pertanian, pembibitan, dukungan usaha dan kelompok ekonomi.

Suryati — Gayo Setie
Dengan dukungan program, Suryati mengembangkan pembibitan kopi sebanyak 2.500 bibit dan mempekerjakan empat kepala keluarga perempuan. Aktivitas tersebut memberikan peluang pendapatan harian sekitar Rp75.000–150.000 bagi pekerja perempuan yang tidak memiliki lahan sendiri.

Yusriati — Gayo Setie
Yusriati memperoleh kesempatan menanam tanaman palawija di sela tanaman kopi milik Suryati. Hasil palawija menjadi miliknya, sementara hasil kopi dibagi sesuai kesepakatan.

Saling bertumbuh dalam kegiatan ekonomi dengan mempertimbangkan keberlanjutan.

Rantai Perubahan:
Dukungan → kesempatan ekonomi → berbagi sumber daya → pendapatan → pemulihan keluarga.

Ketika Masyarakat Menjadi Bagian dari Solusi

Di Kubu
Nurasiah bersama suaminya mengembangkan pertanian pekarangan. Dari percobaan kecil, lahan yang ditanami berkembang hingga sekitar 10.000 m² atau 1 hektare. Hasil pertanian membantu mengurangi kebutuhan keluarga membeli beras dari pasar.

Di Blang Dalam
17 perempuan bergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT). Kelompok tidak hanya mengembangkan pangan bersama, tetapi juga mulai mendorong pengelolaan sampah organik dan pemilahan sampah dari rumah tangga.

Di Gayo Setie
Masyarakat terlibat dalam gotong royong memperbaiki akses jalan dan jembatan.

       “Pemulihan menjadi lebih kuat ketika masyarakat bukan hanya penerima bantuan, tetapi juga pelaku perubahan.”

 

Apa yang Membuat Perubahan Ini Terjadi?

1.     Berangkat dari kebutuhan masyarakat
         Intervensi dipilih berdasarkan persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat terdampak.

2.     Masyarakat ikut terlibat
        Masyarakat dan pemerintah desa tidak hanya menjadi penerima, tetapi ikut berperan dalam pelaksanaan dan pengawasan program.

3.     Data diverifikasi bersama
       YPANBA melakukan verifikasi data bersama, dialog terbuka, dan menggunakan mekanisme umpan balik untuk membantu mengurangi risiko konflik dan memastikan prioritas ditentukan secara lebih transparan

4.     Program mampu beradaptasi
     Salah satu kegiatan yang direncanakan di Bale Panah dialihkan ke Kubu dan Blang Dalam karena terdapat organisasi lain yang telah memberikan intervensi di Bale Panah, untuk menghindari tumpang tindih bantuan.

 

Bagaimana Kami Mengetahui Bahwa Perubahan Terjadi?

Monitoring dan evaluasi tidak hanya digunakan untuk menghitung output, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran bersama antara YPANBA dan masyarakat.

Monev melihat perubahan pada pengetahuan dan perilaku, praktik sosial masyarakat, perubahan pada tingkat rumah tangga, kontribusi terhadap ketahanan keluarga, relevansi dan efektivitas intervensi, dampak dan keberlanjutan, serta perubahan pada tingkat komunitas. Temuan monev diperoleh dari pernyataan masyarakat dan aparatur desa melalui FGD, wawancara dan observasi langsung di rumah penerima manfaat serta lokasi intervensi.


Apa yang YPANBA Pelajari Bersama Masyarakat?

01 — Akses dasar dapat menghasilkan perubahan yang lebih luas
Jalan, jembatan dan air bersih bukan sekadar infrastruktur. Akses tersebut dapat memengaruhi mobilitas, pekerjaan rumah tangga, pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

02 — Pemulihan penghidupan membutuhkan ruang bagi inisiatif lokal
Pengalaman Suryati, Nurasiah dan kelompok perempuan menunjukkan pentingnya memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan solusi berdasarkan sumber daya yang mereka miliki.

03 — Perempuan adalah aktor pemulihan
Dukungan kepada kelompok perempuan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi rumah tangga, tetapi juga memperkuat solidaritas dan kerja kolektif.

04 — Akuntabilitas adalah proses dua arah
Transparansi data, dialog dan feedback/umpan balik membantu YPANBA menjaga relevansi program sekaligus merespons persoalan yang muncul di lapangan.

Pemulihan Belum Selesai

Program ini telah membantu masyarakat menjawab sebagian kebutuhan dasar dan memulai kembali proses pemulihan. Namun, laporan ini menunjukkan masih terdapat persoalan terkait penghidupan, tempat tinggal, pemulihan nonfisik, kerusakan lahan dan akses terhadap layanan dasar.

Prioritas Kedepan:

  • Penguatan kapasitas masyarakat agar inisiatif lokal dapat terus berjalan.
  • Penguatan kelompok perempuan agar peluang ekonomi dan solidaritas dapat berkembang.
  • Pemeliharaan infrastruktur masyarakat agar akses yang telah dibuka tetap berfungsi.
  • Penguatan sistem lokal agar masyarakat dan pemerintah desa dapat terus merespons kebutuhan pemulihan.

Kepada komunitas Quaker, terima kasih telah berjalan bersama masyarakat Aceh dalam proses pemulihan.

“Dukungan yang diberikan tidak berhenti sebagai bantuan. Ia menjadi jalan yang kembali terbuka, menjadi air yang lebih mudah dijangkau, menjadi kesempatan untuk memperoleh penghasilan, dan menjadi ruang bagi perempuan dan anak untuk tumbuh bersama.”

Tim YPANBA (Yayasan Perempuan dan Anak Negeri Banda Aceh)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page